Yth Rekan-rekan dosen IT Telkom
Beberapa kali kunjungan ke TSel rasanya sudah mulai ada sedikit demi sedikit titik terang. Pengembangan dan pemanfaatan USO telah diberikan kesempatan kepada IT Telkom untuk mengisinya dan saat ini tim dari FRI sedang menyelesaikan Proposalnya.
Kemudian pada hari Rabu, 8 Maret 2011 mulai jam 10 TSel akan hadir di IT Telkom untuk medapatkan penjelasan (presentasi) dan kunjungan fasilitas laboratorium yang ada di IT Telkom yang dapat dikerjasamakan dengan TSel. Tempat dan akomodasi akan ditanggung oleh Bagian Kerjasama. Dan Unit yang siap untuk menyampaikan fasilitas laboratoriumnya adalah FEK (melalui Pak Ali Muayyadi) dan Bagian Kerjasama yang akan menyampaikan fasilitas laboratorium ZTE. Tentu tidak tertutup kemungkinan laboratorium di FRI dan FIF (lho, kok kayak tukang kredit sepeda motor Honda) juga ikut serta dalam penawaran fasilitas laboratorium ini. Contoh misal di ITB ada fasilitas laboratorium antenna yang digunakan untuk testing antenna dan setiap testing dihargai 7 juta Rupiah. Lumayan untuk menambah non tuition fee. Tentu, nilai 7 juta dapat dinegosiasikan.
Ada hal lain yang menjadi tantangan sebagai peluang non tuition fee yang lain yang masih kosong, yaitu: Tsel telah mendapatkan lisensi dari pemerintah Indonesia yang saat ini masih belum diapa-apakan oleh TSel, yaitu:
- Lisensi BWA 2,7 untuk seluruh Indonesia
- VoIP untuk seluruh Indonesia dan dunia
- Jaringan telpon tertutup terbatas untuk suatu daerah tertentu
Patut, kita ketahui bahwa TSel telah memutuskan untuk memilih LTE sebagai solusi teknologi masa depan setelah 3G, namun dengan telah ikutserta dalam mengambil tender BWA 2,7, maka harus juga lisensi ini digunakan. Nah, TSel membutuhkan ide untuk bersama-sama merealisasikan lisensi ini dan yang terbayang saya pribadi dalam menggunakan lisensi ini, tak terbatas pada ide digunakan untuk apa namun juga dari sisi hitungan bisnisnya. Artinya pula jika ada jawaban atas lisensi ini, IT Telkom harus melibatkan seluruh kalangan yang ada di IT Telkom, bukan hanya sekedar dari satu unit tertentu saja. Tinggal yang dibutuhkan adalah siapa yang menjadi penanggung jawab kegiatan ini dan diputuskan oleh siapa (mungkin Warek III, sebagai pengambil keputusan untuk membentuk tim kegiatan ini). Ide dasar (dari sisi Teknologi) tim dari laboratorium Mobile and Switching telah membuat draft proposal. Sangat disayangkan jika hal yang demikian ini, IT Telkom TIDAK BISA mengambil peran.
Selanjutnya untuk VoIPdan Jaringan Telpon Tertutup Terbatas, yang harus dikaji pula selain factor teknis teknologi, harus pula dibuatkan draft TATA ATURAN di pemerintah RI. Begitupun perhitungan bisnis dan kelanjutannya. Tentu, tim yang dibentuk harus pula lintas Fakultas. Maka para pengambil keputusan, jika berminat mengambil peran ini.
Ketika non tuition fee terus didengungkan, apakah hanya berdengung, ataukah akan terbukti nyata di lapangan? Saya yang telah mencoba bersabar dengan terus menjalin kontak dengan Telkomsel, apakah hanya mendengar dengungan saja, atau melihat ada bukti IT Telkom memang layak menjadi bintang di dunia telekomunikasi di Indonesia, minimal? Baik bukti nyata di lapangan, di regulasi, di desain bisnis, maupun nilai tambah bagi masyarakat ini. Monggo, peluang telah aku beberkan!


